imam fahrurrozi

Berpacu menjadi yang terbaik

jam

istiqomah

    Pd Awalnya Semua org bangga dgn pilihanny, tp pd akhirny tdk semua org setia pd pilihanny... Saat ia sadar bhw yg dipilih mngkn tdk spenuhnya sprt yg diimpiknnya... Krn yg trsulit dlm hidup ini,,bukanlh memilih, tp brtahan pd pilihn... Sedikit waktu mungkin sdh cukup utk menentukn pilihn,,tp utk brtahan pd pilihn tsb,,mgkin hrs menghabiskn sisa usia yg dimiliki... Sprt itulh Satu kata yg begitu mudah diucapkan, tp begitu berat utk diamalkan "Istiqamah"

edit blog

anatomi fisiologi jantung

diposting oleh imamfahrurrozi--fkp11 pada 08 May 2012
di medical caring - 1 komentar

ANATOMI FISIOLOGI KARDIOVASKULER

Oleh : Imam fahrurrozi

Fakultas keperawatan Universitas Airlangga

 

Jantung adalah suatu organ yang merupakan dari suatu system dalam tubuh yang ikut berperan dalam mempertahankan mekanisme homeostatis ( dari bahasa latin, homeo = sama, tidak berubah; statis = keadaan seimbang. System yang dimaksud adalah system kardiovaskuler ( dari bahasa latin cardio = jantung; vascular = pembuluh darah. System kardiovaskular juga dikenal dengan system jantung-pembuluh darah.

Jantung bukan hanya bagian dari system kardiovaskuler, melainkan secara fungsional merupakan pusat dari system kardiovaskuler. Jantunglah yang menjaga agar sistemkardiovaskuler dapat berfungsi secara normal untuk mempertahan homeostatis. Fungsi utama jantung adalah mendoronng darah agar dapat mengalir dengan lancer di dalam pembuluh darah pada system sirkulasi keseluruh tubuh. Darahlah yang membawa bahan kebutuhan pokok jariingan berupa oksigen dan nutrisi. Darah jugalah yang membawa bahan buangan yang berasal dari sisa-sisa metabolism sel dari jaringan. Selain itu, kebanyakan hormone yang diedarkan didalam tubuh juga melalui darah. Oleh sebaab itu, sangat penting darah dapat  mencapai seluruh jaringan tububh untuk memenuhi semua kebutuhan dan membuang sisa-sia metabolism. Untuk itu harus ada kekuatan yang dapat medorong darah agar dapat mengalir. Kekuatan pendorong tersebut berasal dari jantung, darah dapat didorong oleh kekuatan yang timbul dari kontraksi tersebut. Dengan cara demikian , darah dapat mengalir ke seluruh pembuluh darah yang ada didalam tubuh.

  1. Anatoni jantung

Jantung terletak diatas diafragma, di pertengahan rongga dada agak ke kiri, dalam suatu ruangan yang disebut mediastinum ( ruanagan dianatara paru kiri dan kanan). Kira – kira dua pertiga jantung terlrtak disebelah kiri midline rubuh.

Secara anatomis jantung merupakan organ yang mempunyai rongga didalamnya. Rongga didalam jantung ini terdiri dari 4 ruang, yaitu dua ruang atrium disebelah atas, dan dua ruang ventrikel disebelah bawah. Ukuran jantung kira-kira sebesar kepalan tangan individu pemiliknya. Ukurannjantung pada orang dewasa adalah panjang kira-kira 12 cm, lebar dibagian paling lebar kira-kira 6 cm, dan berat kira-kira 300 gram.

Secara fungsional jantung manusia terdiri atas dua bagian yang terpisah, yaitu bagian kanan dan kiri. Jantung bagian kanan dan kiri asin-masing terdiri atas  dua rongga pompa yang berdenyut, yaitu atrium dan ventrikel. Fungsi atrium adalah pompa primer bagi ventrikel, yaotu membantu memasukan darah ke dalam ventrikel. Artinya atrium hanya untuk mengisi darah ke dalam ventrikel yang akan memompakanj darah tersebut keluar jantung melalui pembuluh darah balik (vena). namun, kekuatan pemompaan atrium relative lebih lemah dibandingkan dengan ventrikel; perbendaan kekuatan ini sesuai dengan fungsi atrium untuk memompakan darah sampai keventrikel saja. Darah yang masuk kedalam ventrikel kiri ini kaya akan oksigen dan akan menyuplai oksigen bagi seluruh jaringan tubuh. Darah balik dari sikulasi sistemik yang kaya CO2 masukk ke dalam atrium kanan melalui vena cava. Atrium kanan kemudian kemudian memompakan darah yang kkaya CO2 ini selanjutnya dipompakan ventrikel kanan ke trunkus pulonalis dan selanjutnya ke sirkulasi paru-paru untui dibersihkan.

 

 

  1. Anatomi dan fisiologi system kardiovaskuler pada janin
    1. Anatomi system kardiovaskuler pada janin

 

 

 

 

 

 

 

 

                          Gambar 1. Anatomi system kardiovaskuler pada janin

 

Kardiovaskuler mempunyai fungsi yang khusus pada proses embriologi, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan oksigen dan makanan. Pada saat awal, terbentuk empat ruangan yang membentuk seperti tuba tunggal yang akhirnya berpisah.

 pada janin sirkulasi darah lebih kompleks dari pada sirkulasi orang dewasa. Darah kaya oksigen datang dari plasenta menuju ke ventrikel kanan dan kiri. Bagian terbesar dari pengeluaran ventrikel kanan tidak mengadakan perfusi ke paru-paru karena pada janin paru-paru belum berfungsi secara maksimal, tetapi menghindari sirkulasi pulmonal melalui duktus arteriosus, dengan demikian langsung menuju tubuh, dan kembali keplasenta untuk oksigenasi. Dengan adanya sirkulasi pararel ini setiap organ dapat menerima darah dari kedua ventrikel. Oleh karenanya pengeluaran dari jantung janin biasanya dinyatakan sebagai pengeluaran ventricular gabungan (CVO). Pada janin normal nilai CVO kira-kira 450 ml/kg BB/menit.

Pada awal denyut dimulai pada daerah ventrikel dan pada saat perkembangan dini kontrol jantung ada pada daerah sino atrial. Kemudian saat belum terbentuknya paru, system sirkulasi paru yang berfungsi adalah plasenta, dimana arteri umbikalis mengalirkan darah yang deoksigenasi ke jaringan fetus. Kemudian ke plasenta. Darah yang deoksigenasi dan keluar ke dalam vena umbikalis. Darah oksigenasi akan mengalir kehati, sebagian akan melintasi melalui duktus venosus atau melalui vena hepatica kedalam vena kava inferior dan sisanya akan didistribusikan ke bagian hati melalui cabang vena umbikalis. Untuk sementara bagian hati menerima darah dari vena porta. Setelah itu darah memasuki atriaum kanan dan saat melewati jantung darah dibagi menjadi dua aliran oleh Krista devens. Sebagian darah dialirkan dari vena kava inferior ke atrium kiri yang bercampur dengan darah vena pulmonalis, sementaa sejumlah kecil memasuki atrium kanan yang bercampur daradari vena kava superior.

Setelah janin dilahirkan darah yang beredar harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan mengantarkan oksigen kejaringan tubuh. Pada saat lahir curah ventrikel kiri bayi meningkat secara drastis, yang pada awalnya hanya 150 ml/menit menjadi 350 -400 ml/kg/menit. Perubahan selanjutnya terjadi peningkatan aliran darah ke paru  secara progresif, sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan di atrium kiri sampai melebihi tekanan atrium kanan. Kondisi ini mengakibatkan penutupan foramen ovale juga peningkatan tekanan  ventrikel kiri disertai peningkatan tekanan serta penebalan sistem arteri sistemik. Peningkatan tekanan oksigen sistemik dan perubahan sintesis serta metabolisme bahan vasoaktif prostaglandin mengakibatkan kontraksi awal dan penutupan fungsional dari duktus arteriosus yang mengakibatkan berlanjutnya penurunan tahanan arteri pulmonalis.

 

  1. Fisiologi system kardiovaskuler

Dalam memahami jantung atau sebuah system kardiovaskular terdapat tiga komponen yang beperan yakni jantung itu sendiri sebaga alat memompa darah, pembuluh daah sebagai tempat untuk mengalirkan darah dan darah sebagai bagian yang mengatur system berjalan sesuai dengan kondisi yang ada. Jantung bekerja sebagai alat untuk mensirkulasika darah ke paru, guna pertukaran gas.

Jantung memiliki sifat dasar, yaitu

  1. Irritability  (bathmotropic) = peka rangrang
  2. Conductivity (dromotropic) = hantar rangsang
  3. Contractility  (inotropic) = dapat berkontraksi
  4. Rhythmicity ( chronotropic) = bersifat ritmis

 

  1. Sirkulasi jantung

Jantung memiliki fase sirkulasi , yaitu peristiwa yang terjadi pada jantung berawal dari permulaan sebuah denyutan sampai berakhirnya denyut jantung berikutnya. Siklus jantung mencakup periode dari akhir kontraksi (sistole) dan relaksasi (diastole) jantung sampai akhir systole dan diastole berikutnya. Kontraksi jantung mengakibatkan perubahan tekanan dan volume darah dalam jantung dan pembuluh utama yang mengatur pembukaan dan penutupan katup jantung serta aliran darah yang melalui ruan-ruang dan masuk ke arteri.

II. Bunyi jantung.

Jantung menghasilkanbunyi selama berdenyut, bunyi tersebut dapat terdengar bila kita menempelkan telinga ke dinding dada dengan bantuan stetoskop. Jantung memiliki beberapa bunyi, diantaranya :

  1. Bunyi jantung I (S1).

Bunyi seperti suara “lub” terdengar lembut. Bunyi tersebut dihasilkan oleh tekanan tiba-tiba katub mitral dan tricuspid pada saat awal systole ventrikel.

  1. Bunyi jantung II (S2).

Bunyi seperti suara “dub”bunyi tersebut dihasilkan oleh getaran akibat penutupan katup pulmonalis dan aorta.

Terpisahnya kedua bunyi jantung pertama dan kedua adalah karena penutupan kedua katub yang tidak bersamaan sebagai akibat dari kontraksi ventrikel yang satu terjadi setelah kontraksi dengan ventrikel yang lain.

  1. Bunyi jantung III (S3)

Bunyi jantung III adalah bunyi jantung yang lembut tapi lambat, terdengar  setelah bunyi jantung kedua, dan pada kebanyakan terjadi pada anak-anak dan beberapa pada orang dewasa muda. Hal ini terjadi karena disebabkan oleh peregangan tiba-tiba oleh katub kuspid mitral.

S1, S2, S3, S1, S2, S3

 

 

  1. Bunyi jantung IV (S4)

bunyi jantung ke IV bunyi lembut yang lambat dan terdengar sebelum bunyi jantung ke I, terdengar ketika salah satu atrium berkontraksi lebih kuat dari yang lain.

S4,S1,S2,S4,S1,S2,

 

III. Frekuensi jantung

Frekuensi jantung normal berkisar antara 60 sampai 100 denyut per menit, dengan rata-rata denyutan 75 kali pemenit. Dengan kecepatan seperti itu, siklus jantung berlangsng selama 0,8 detik : systole 0,5 detik dan diastole 0,3 detik. Peningkatan frekuensi jantung sampai melebihi 100 denyut pe menit disebut takikadi, sedaangkan penuunan frekuensi jantung yang kurang dari 60 denyut permenit disebut bradikardi.

 

  1. Jantung sebagai sirkulasi sistemik, sirkulasi pulmonal dan transport gas.
    1. Sirkulasi sistemik  

sirkulasi sistemik adalah sirkulasi darah yang dimulai pada saat darah dipompa keluar dari ventrikel kiri melalui aorta ke seluruh tubuh, dan kembali ke atrium kanan jantung melalui vena kava superior dan vena kava inferior. Darah yang kaya akan O2 yang berasal dari ventikel kiri, melalui orta akan dihantarkan ke seluruh tubuh. Di jarigan perifer, O2 akan digunakan dan bertukar dengan CO2. Kemudian darah dengan kadae O2 rendah kembali ke jantung melalui cava. Mekanisme spesial pada jantung dapat berkontraksi secara konstan, melalui penghantaran aksi potensial melalui otot jantung, jantung dapat berdetak secara konstan dan ritmis. Mekanismenya adalah : aliran darah dari ventrikel kiri menuju katup aortik – aorta – ateri – arteriola – kapiler – venula - vena – vena kava inferior dan superior – atium kanan. Jadi ciri-ciri sirkulasi sistemik adalah:

 

  1. Mengalikan darah ke berbagi organ
  2. Memenuhi kebutuhan organ yang berbeda
  3. Memerlukan tekanan permulaan yang besar
  4. Banyak mengalami tahanan
  5. Koom hidostatik panjang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                           Gambar 2. sirkulasi sistemik

 

  1. Sirkulasi pulmonalis

Sirkulasi pulmonalis adalah sirkulasi darah dari ventrikel kanan jantun, masuk ke paru-paru, kemudian kembali ke atrium kiri. Melalui peran ventrikel kanan, darah dengan kadar O2 rendah disampaikan melealui artei pulmonary ke paru-paru, kemudian terjadi pertuara gas, sehingga darah yang keluar dari  paru-paru kaya akan O2. Darah yang kaya akan O2 ini akan dihantarkan kembali ke paru-paru melalui vena pulmonary. Mekanismenya adalah: aliran darah dari ventrikel kanan – katup pulmonalis – arteri pulmonalis – paru-paru – vena pulmonalis – atrium kiri -.

Arteri pulmonalis mengandung darah yang tidak teroksigenasi, sedangkan vena pulmonalis mengandung darah yang teroksigenasi. Dalam paru-paru. Arteri pulmonalis men=mbagi kagi menjadi arteri yang lebih kecil, arteriol dan kapiler. Jadi ciri-ciri sirkulasi pulmonalis adalah :

  1. Hanya mengalirkan darah ke paru
  2. Hanyaa berfungsi untuk paru
  3. Mempunyai tekanan permulaan yang rendah
  4. Hanya sedikit mengalami tahanan
  5. Kolom hidrostatiknya pendek

 

 

 

 

 

 

 

                                                      Gambar 3. Sirkulasi pulmonalis

 

  1. Transportasi gas

Transportasi gas merupakan system transportasi antara O2 kapiller ke jaringan tubuh, dan COjaringan tubuh ke kapiler. Pada transportasi, O2 akan berikatan hemoglobin (Hb) dan menjadi Oksihemoglobin (97%), serta COjuga berikatan dengan Hb, yang akan membentuk karbominohemoglobin (30%), dan larut dalam plasma (3%), kemudian menjadi HCO3 berada pada darah (65). Pada transportasi gas terdapat beberapa factor yang mempengaruhi, diantaranya adalah curah jantung (cardiac output) yang dapat dinilai melalui isi sekuncup dan frekuensi denyut jantung. Isi sekuncup ditentukkan oleh kemampuan otot jantung untuk berkontraksi dan volume cairan. Factor lain yang memperngaruhi transportasi gas adalah kondisi pembuluh darah, latihan/olahraga (exercise), hematokrit (perbandingan antara sel darah dengan darah secara keseluruhan) eritrosit, dan Hb.

 

 

  1. Sistem konduksi jantung dan elektrofisiologi
    1. System konduksi jantung

Didalam otot jantung terdapat jaringan khusus yang menghantarkan aliran listrk, jaringan tersebut mempunyai sifat-sifat yang khusus yaitu sebagai berikut

  1. Otomatisasi               : kemampuan menghasilkan impuls secara spontan
  2. Ritmisasi                   : pembangkitan impuls yang teratur
  3. Kondutifitas             : kemampuan untuk menyalurkan impuls
  4. Daya rangsang          : kemampuan untuk menanggapi stimulasi

Bedasarkan dari sifat-sifat diatas, maka secara spontan dan teratur jantung akan menghasilkan impuls-impuls yang disalurkan melalui system hantar untuk merangsang otot jantung dan bisa menimbulkan kontraksi otot. Perjalanan impuls dimulai dari nodus SA, nodus AV,berkas his, sampai ke serabut purkinje.

  1. Nodus  SA (sino atrial) merupakan kepingan berbentuk sabit dari otot yang mengalami spesialisasi degan lebar kira-kira 3 mm dan panjang 1 cm, simpul inni terletak pada dinding posterior atrium dexta, tepat dibawah dan medial terhadap vena kava superior, serabut-serabut simpul ini masing-masing begaris tengah 3-5 mikron. Serabut SA ini berhubujngan langsung dengan serabut atrium sehingga setiap potensial aksi yang mulai pada simpul SA segera menyebar ke atrium. Pada keadaan normal impuls yang dikeluakan frekuensinya 60-10 kali/ment. Respon dari SA memberikan dampak pada aktifitas atrium. SA node dapat menghasilkan impuls karena adanya sel-sel pacemaker yang mengeluarkan impuls secara otomatis. Sel ini dipengaruhi oleh saraf simpatis dan parasimpatis.
  2. Nodus Atrioventrikular (AV) adalah sebuah berkas kecil sel-sel otot jantung yang khusus didasar atrium kanan, dekat spektum, tepat diatas peraturan atrium dan ventrikel.
  3. berkas his adalah suatu jaras sel-sel yang berasal dari nodus AV dan masuk ke septum antarventrikuler, tempat berkas tesebut bercabang membentuk berkas kanan dan kiri yang berajlan kabawah melalui septum, melingari ujung bilik septum, melingkari ujung bilik ventrikel, dan kembali ke atrium di sepanjang dinding luar.
  4. Serabut purkinje adalah serat-serat terminal halus yang berjalan dari berkas his menyebar keseluruh miokardium ventrikel seperti ranting-ranting pohon.

 

  1. Elektrofisiologi jantung

Elektrofisiologi adalah ilmu yang mempelajari aktivitas listrik pada jantung. Jantung berkontraksi teratur karena impuls teratur dari SA node dan AV node, berkas his dan serat purkinje. Pada keadaan eksistasi membrane sel otot jantung akan dilalui ion Na dan Ca. impuls bergerak masuk kedalam sel otot jantung, maka secaa bergantian ion kalium keluar dan natrium masuk, didalam sel otot jantug terjadi proses depolarisasi/keadaan kontraksi, mereka tidak dapat berespon lebih lanjut sampai terjadi proses repolarisasi. Setelah terjadi proses depolarisasi maka akan terjadi potensial aksi yang mngakibatkan terjadi proses repolarisasi/Pemulihan namun, tidak semua sel terepolarisasi secara bersamaan karena beberapa sel jantung dapat menghantarkan impuls listrik lebih cepat dari yang lainya. Sesudah impuls listrik melewati semua sel, ion kalium masuk lagi dan natrium yang keluar dan terjadi periode refrakter.

Periode refrakter adalah waktu antra akhir kontraksi dan kembalinya sel jantung ke keadaan siap. Sementara sel pulih, atrium dan ventrikel mengisi darah dan bersiap-siap untuk berkontraksi lagi. Ada 2 fase periode refrakter, yaitu :

  1. Periode refrakter absolute : sel jantung belum menyelesaikan repolarisasinya dan tidak dapat dirangsang(depolaisasi). Periode ini diukur  dari permukaan kompleks QRS sampai sepertiga pertama gelombang T.
  2. Periode refrakter relative : sel jantung telah berepolarisasi, sampai suatu saat beberapa sel dapat dirangsang lagi untuk berdepolarisasi, jika rangsangan cukup. Namun, jika sel dirangsang selama ini, sel tersebut akan menghantarkan impuls listrik dengan pola lambat abnormal. Periode ini diukur dari akhir periode refrakter absolute dan akhir gelombang T. periode ini disebut juga dengan periode repolarisasi yang mudah dirangsang.

 

  1. Pengaturan cardiac output dan tekanan darah
    1. Cardiac output

Curah jantung atau cardiac output adalah volume darah yang dipompa tiap-tiap ventrikel per menit. Setiap periode tertentu volume darah yang mengalir melalui sirkulasi pulmonalis di periode tertentu akuivalen dengan volume darah yang mengalir ke sirkulasi sistemik.

Faktor penentu cardiac output adalah frekuensi denyut jantung dan volume sekuncup (shock volume). Frrekuensi denyut jantung rata-rata adalah 70 kali/menit, sedangkan volume sekuncup adalah 70 ml/denyutan, sehingga :

curah jantung = frekuensi denyut jantung x volume sekuncup

 

kecepatan denyut jantung sangat ditentukan oleh pengaruh ototnom pada nodus SA yang merupakan pacekmaker jarena mempunyai kecepatan depolarisasi spontang tinggi. Ketika nodus SA mencapai ambang, terbentuk potensial aksi yang melebar ke seluruh jantung dan mengindusi jantung untuk berkontraksi atau berdenyut. Kecepatan denyut jantung juga sangat dipengaruhi saraf otonom, yakni saraf parasimpatis dan saraf simpatis. Saraf parasimpatis yang mensarafi jantung adalah saraf Vagus (terutama atrium-nodus SA dan nodus AV). Aktivitas saraf parasimpatis yang menigkat mengeluarkan asetilkolin yang menyebabkan peningkatan permeabelitas nodus SA terhadap ion Kdengan memperlambat penutupan saluran ion K+. sebaliknya saraf simpatis mempercepat denyut jantung melalui efeknya pada jaringan pemacu (nodus SA dan nodus AV). Nor efineprin yang dikeluarkan dari ujung-ujung saraf simpatis menurunkan permeabilitas K+ dengan mempercepat inaktivasi saluran K+, sehingga bagian dalam sel menjadi kurang negative dan pergeseran K+  menjadi lebih cepat sehingga cardiac output pun meningkat. Pada nodus AV, perlambatan pada nodus AV dikurangi dengan mempercepat penghantaran melalui peningkatan arus  masuk CA++.

  1. Tekanan darah

Tekanan darah adalah kekuatan yang ditimbulkan pada dinding pembuluh darah arteri. tekanan darah (TD) merupakan hasil perkalian dari cardiac output (CO) dan resistensi vesicular perifer (R) jadi bisa dirumuskan dengan:

TD= CO x R

Reflex baroreseptor merupakan mekanisme terpenting dalam pengaturan tekenan darah jangka pendek. Setiap perubahan tekanan darah rata-rata akan mencetuskan reflek baroreseptor yang diperantarai secara  otonom dan akan mempengaruhi jantung dan pembuluh darah untuk menyesuaikan curah jantung dan resistensi perife total sebagai usaha untuk mengembalikan tekanan darah dalam keadaan normal.reseptor terpenting yang berperan dalam pengaturan tekanan darah adalah sinus karotikus dan baroresptor lengkung aorta, yang merupakan mekanoreseptor yang pekka terhadap perubahan tekanan areteri rata-rata dan tekanan nadi. Ketanggapan reseptor-reseptor tersebut terhadap fluktuasi tekanan nadi meningkatkan kepekaan sistolik atau diastolic dapat mengubah tekanan nadi tanpa mengubah tekanan rata-rata. Baroreseptor memberikan informasi secara continue mengenai tekanan darah dengan menghasilkan potensial aksi sebagai respon terhadap tekanan di dalam arteri. Jika tekanan arteri meningkat, potensial di kedua reseptor akan meningkat, bila tekanan darah menurun, kecepatan pembentukan potensial aksi dei nefron neuron aferen oleh baroreseptor akan menurun juga.

Jika karena suatu hal dan tekanan artei meningkat di atas normal, baroreseptor sinus karotikus dan lengkung aorta akan meningkatkan kecepatan pembentukan potensial aksi di neuron aferen masing masing. Setelah mendapat informasi bahea tekanan arteri terlalu tinggi oleh peningkatan pembentukan potensial aksi tersebut, pusat control kardiovaskular berespon dengan mengurangi aktivitas simpatis da meningkatkan aktivitas parasimpatis ke system kardiovaskular. Sinyal-sinyal sfrinefrin menurunkan kecepatan denyut jantung, yang akan menurunkan volume sekuncup dan menimbulkan vasodilatasi arteriol dan vena, yang pada giliranya akan menurunkan curah jantung dan resistensi perifer total, sehingga tekanan darah kembali ketingkat normal. Sebaliknya jika tekanan darah turun dibawah normal, maka aktivitas baroeseptor pun akan menurun yang menginduksi pusat kardiovaskuler untuk meningkatkan aktivitas jantung dan vasokonstriktor simpatis sementara menurunkan keluaran parasimpatis. Pola aktivitas eferen ini menyebabkan peningkatan kecepatan denyut jantung dan volume sekuncup, disertai oleh vasokontriksi arteriol dan vena. Perubahan ini menyebabkan peningkatan curah jantung dan resistensi perifer total, sehingga tekanan darah naik kembali normal.

 

  1. Faktor yang dapat mengontrol tekanan darah yaitu
    1. Cardiac output

cardiac output adalah volume darah yang dipompa tiap-tiap ventrikel per menit selama kontraksi ventrikel permenit. Peningkatan atau penurunan cardiac output dapat berimpikasi pada tekanan darah.

  1. Volume darah

Peningkatan atau penurunan volume darah akan  mempengaruhi tekanan darah, berkurangnya volume darah dapat menurunkan tekanan darah, begitupun sebaliknya semakin tinggi volume darah maka tekanan darah pun akan meningkat.

  1. Elastisitas pembuluh darah arteri

Dinding pembuluh darah arteri normalnya bersifat elastic karena tempat kontraksi pada saat systole dan retraksi selama diastole. Pada atriosklerosis terjadi penurunan elastisitas pembuluh darah arteri yang dapat menjadikanya keras dan kaku. Kondisi ini sering terjadi pada usia tua yang mengakibatkab tekanan systole meningkat karena arteri tidak bisa bekerja dengan baik.

 

II.  Faktor- faktor yang mempengaruhi tekanan darah

  1. Usia

Tekanan darah akan semakin meningkat seiringnya berjalan usia seseorang, hal ini dikarenakan dengan semakin berkurangnya elastisitas pembuluh darah arteri pada saat bertambaahnya usia seseorang. Semakin tua usia seseorang maka dinding pembuluh darah akan semakin manjadi keras dan kaku, hal ini dapat menyababkan tekanan pada arteri semakin besar dan tekanan darah pun akan semakin meningkat.

  1. Stress

Ansietas, takut dan stress emosional seseorang akan merangsang syaraf simpatik, hal ini dapat mengakibatkan peningkatan denyut jantung serta peningkatan resistensi atau tahanan arteri. Selain itu juga dapat menyebabkan vasookontriksi arteri.

  1. Olahraga

Aktifitas yang membutuhkan tenaga ekstra seperti olahraga dapat mempengaruhi teanan darah, karena pada saat olahraga jantung memompa darah lebih cepat dari keadaan biasa, akibatnya tekanan darah yang dihasilkan dari jantung akan semakin meningkat.

  1. Obat-obatan

Ada beberapa obat yang dapat membuat peningkatan atau penurunan tekanan darah. Seperti jenis analgetik yang dapat menurunkan tekanan darah.

Peningkatan  tekanan darah disebut hypertensi dan penurunan tekanan darah disebut hipotensi, nilai normal tekanan darah pada dewasa adalah 120 mmHg untuk systole, dan untuk diastole 80 mmHg, maka sering ditulis 120/80 mmHg. Seseorang dapat dikatakan hypertensi jika tekanan darahnya 140 mmHg untuk sistol, dan 90 mmHg untuk diastole. Tetapi hal ini tidak bisa dijadikan patokan untuk semua orang dewasa, karena setiap orang memiliki tekanan darah yang berbeda.

  1. Keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa dalam kardiovaskuler

Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat. Volume cairan dalam tubuh merupakan sebagian besar dari berat badan sekitar 60% dalam tubuh manusia adalah cairan. keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh adalah merupakan salah satu bagian dalam fisiologi homeostatis. Hamper semua reaksi biokimia yang terjadi dalam tubuh tergantung dari keseimbangan air dan elektrolit. Keseimbangan air dan elektrolit melibatkan komposisi dan melibatkan berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah  larutan yang terdiri dari air (pelarut), dan zat tertentu (zat terlarut), sedangkan elektrolit adalah zat kiimia yang menghasilkan partikel-partikel yang bermuatan istrik yang juga disebut dengan ion jika berada dalam larutan dan sangat larut dalam air berupa kation dan anion. Cairan dan elektrolit masuk kedalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi keseluruh bagian tubuh.

Keseimbangan cairan dalam tubuh saling bergantung satu dengan lainya, jika satu terganggu maka yang lain pun akan terganggu. Jumlah air dalam tubuh berkaitan dengan jumlah elektrolit tubuh. Konsentrasi natrium darah merupakan indicator  yng baik dalam jumlah cairan tubuh. Tubuh berusaha mmpertahankan jumlah total cairan  tubuh,  sehingga kadar natrium dalam daah tetap stabil. Jika kadar natrium tubuh terlalu tinggi, maka tubuh akan menahan air untuk melautkan kelebihan natrium, maka akan menimbulkan rasa haus dan sedikit mengeluarkan air kemih, tetapi jika kaadar natrium terlalu rendah ginjal akan mengeluarkan lebih banyak  air untuk mengembalikan kadar natrium kembali normal.

Keseimbangan asam – basa dalam tubuh disebut dengan system buffer, terdapat 3 sistem buffer  yang dapat mempertahankan keseimbangan asam basa dalam tubuh, yaitu:

  1. Buffer kimia
    1. System buffer bikarbonat,  system ini yang kan membuffer cairan ekstrasel, melawan asam non karbonat
    2. System buffer protein, system ini membuffer cairan intrasel dan juga ekstrasel
    3. System buffer hemoglobin, system ini akan melawan perubahan asam karbonat
    4. System buffer fosfat, system ini akan membuffer di tratus urinarius, juga cairan intrasel.
    5. Pengaturan ion H+ oleh traktus respiratorus
    6. Pengaturan ion H+ oleh ginjal
    7. Definisi cairan dan elektrolit

Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler.

  1. Cairan intraselular

Cairan yang terkandung diantara sel disebut cairan intraseluer. Pada orang dewasa, sekitar 2/3 dari cairan dalam tubuhnya terdapat di intraseluler, sedangkan pada bayi cairan intraseluler hanya setengah berat badanya.

  1. Cairan ekstraseluler

Cairan ekstraseluler adalah cairan yang berada diluar sel. Jumlah relative cairan ekstraseluler berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Pada bayi baru lahir, sekitar setengah dari cairan tubuh terdapat di cairean ekstraseluler. Setelah usia 1 tahun, jumlah cairan ekstraseluler menurun sampai sepertiga dari volume total. Cairan ekstraseluler di bagi menjadi tiga, yaitu

  1. Cairan interstitial : adalah cairan yang mengelilingi sel
  2. Cairan intravasekular : cairan yang terkandung dalam pembuluh darah (contohnya plasma). Rata rata volume darah orang dewasa sekitar 5-6 L, dimana 3 liternya merupakan plasma, dan sisanya terduru daru sel darah merah, sel darah putih dan platelet
  3. Cairan transeluler merupakan cairan yang terkandung diantara rongga tubuh tertentu seperti : serebrospinal, pericardial, pleura, dll.

Zat terlarut dalam tubuh terdiri dari elektrolit dan nonelektrolit.

  1. Elektrolit

elektrolit merupakan zat yang terdiosasi dalam cairan dan menghantarkan arus listrik. Elektrolit dibedakan  menjadi ion positif (kation) dan ion negative ( anion), jumlah kation dan anion didalam tubuh selalu sama. Kation utama dalam cairan ekstraseluler adalah Na+, dan  kation utama dalam cairan intraseluler adalah K+. sedangkan Anion utama dalam cairan intraseluler adalah ion fosfat (PO43-) dan anion utama dalam cairan ekstraseluler adalah klorida (CL) dan bikarbonat (HCO3). Karena kandungan elektrolit dalam plasma  dan cairan interstitial pada intinya sama maka nilai elektrolit plasma mencerminkan komposisi dari cairan ekstraseluler tetapi tidak mencerminkan komposisi cairan intraseluler.

 

  1. Natrium

Natrium sebagai kation utama didalam cairan ekstraseluler dan paling berperan di dalam mengatur keseimbangan cairan. Kadar natrium plasma: 135-145mEq/liter. Kadar natrium dalam plasma diatur lewat beberapa mekanisme:

  1. Left atrial stretch reseptor
  2. Central baroreseptor
  3. Renal afferent baroreseptor
  4. Aldosterone (reabsorpsi di ginjal)
  5. Atrial natriuretic factor
  6. Sistem renin angiotensin
  7. Sekresi ADH
  8. Perubahan yang terjadi pada air tubuh total (TBW=Total Body Water)

Kadar natrium dalam tubuh 58,5mEq/kgBB dimana  + 70% atau 40,5mEq/kgBB dapat berubah-ubah. Ekresi natrium dalam urine 100-180mEq/liter, faeces 35mEq/liter dan keringat 58mEq/liter. Kebutuhan setiap hari = 100mEq (6-15 gram NaCl).

 Natrium dapat bergerak cepat antara ruang intravaskuler dan interstitial maupun ke dalam dan keluar sel. Apabila tubuh  banyak mengeluarkan natrium (muntah,diare) sedangkan pemasukkan terbatas  maka akan terjadi keadaan dehidrasi disertai kekurangan natrium. Kekurangan air dan natrium dalam plasma akan diganti dengan air dan natrium dari cairan interstitial. Apabila kehilangan cairan terus berlangsung, air akan ditarik dari dalam sel dan apabila volume plasma tetap tidak dapat dipertahankan terjadilah kegagalan sirkulasi.

  1. Kalium

 Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan ekstraseluler berperan penting di dalam terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit. Jumlah kalium dalam tubuh sekitar 53 mEq/kgBB dimana 99% dapat berubah-ubah sedangkan yang tidak dapat berpindah adalah kalium yang terikat dengan protein didalam sel. Kadar kalium plasma 3,5-5,0 mEq/liter,  kebutuhan setiap hari 1-3 mEq/kgBB. Keseimbangan kalium sangat berhubungan dengan konsentrasi H+ ekstraseluler. Ekskresi kalium lewat urine 60-90 mEq/liter, faeces 72 mEq/liter dan keringat 10 mEq/liter.

  1. Kalsium

 Kalsium dapat dalam makanan dan minuman, terutama susu, 80-90% dikeluarkan lewat faeces dan sekitar 20% lewat urine. Jumlah pengeluaran ini tergantung pada intake, besarnya tulang, keadaan endokrin. Metabolisme kalsium sangat dipengaruhi oleh kelenjar-kelenjar paratiroid, tiroid, testis, ovarium, da hipofisis. Sebagian besar (99%) ditemukan didalam gigi dan + 1% dalam cairan ekstraseluler dan tidak terdapat dalam sel.

  1. Magnesium

 Magnesium ditemukan di semua jenis makanan. Kebutuhan unruk pertumbuhan + 10 mg/hari. Dikeluarkan lewat urine dan faeces.

  1. Karbonat

 Asam karbonat dan karbohidrat terdapat dalam tubuh sebagai salah satu hasil  akhir daripada metabolisme. Kadar bikarbonat dikontrol oleh ginjal. Sedikit sekali  bikarbonat yang akan dikeluarkan urine. Asam bikarbonat dikontrol oleh paru-paru dan sangat penting peranannya dalam keseimbangan asam basa.

  1. Nonelektolit

Nonelektrolit Merupakan zat seperti glukosa dan urea yang tidak terdisosiasi dalam cairan. Zat lainya termasuk penting adalah kreatinin dan bilirubinContoh nonelektrolit adalah : potein, urea, glukosa oksogen, dll. Sedangkan elektrolit tubuh mencakupi natrium, kalium, kalsium, magnesium, klorida, sulfat. Konsentrasi elektrolit dalam tubuh sangat bervariasi pada satu bagian dan bagian lainya namun walaupun pada tiap-tiap bagian tubuh berbeda hokum netralitas listrik menyatakan bahwa, ion negative harus sama banyaknya dengan ion positif.

  1. Fungsi cairan dan elektrolit
    1. Mengatur suhu tubuh

Pada saat tubuh kekurangan cairan maka suhu tubuh manusia akan naik, tapi jika kebutuhan cairan terpenuhi maka suhu tubuh akan kembali normal

  1. Melancarkan peredaran darah

Jika tubuh kekurangan cairan, maka darah akan mengental, hal ini dikarenakan cairan dalam darah akan tersedot untuk kebutuhan dalam tubuh.

  1. Membuang racun dan sisa makanan

Tersedianya cairan yang mencukupi dalam tubuh akan membantu membuang racun, karena air dalam tubuh akan mengeluarkan racun melalui keringat, airseni, dan pernafasan.

  1. Kulit

Air sangat penting dalam menjaga dan mengatur struktu dan fungsi kulit. Kecukupan air dalam tubuh akan menjaga kelembaban, kelembutan, dan elastisitas kulit.

  1. Menguatkan tulang dan gigi

Kecukupan jumlah Ion kalsium dalam tubuh dapat menjaga dari penyakit osteoporosis, serta terpenuhinya kebutuhan ion kalsium dalam tubuh akan menguatkan tulang serta membantu menjagaa gigi.

  1. Keseimbangan cairan dan elektrolit

Pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit dlam tubuh perlu memperhatikan dua parameter, yaitu cairan ekstrasel dan osmolaitas cairan ekstrasel. Jumlah air yang relative kecil dalam darah sangat penting untuk fungsi tubuh dan harus tetap dijaga agar selalu konstan, sedangkan jumlah air diluar darah berfungsi sebaga cadangan yang dapat mengisi atau menyerap kelebihan air dlam darah sesuai dengan kebutuhan. Perpindahan cairan dan elektrolit dalam tubuh terjadi dalam 3 fase, yaitu :

  1. Fase I      :  plasma darah pindah dari seluruh tubuh kedaalm sirkulasi, serta

nutrisi dan oksigen diambil dari paru-paru dan gastrointestinal

  1. Fase II     : cairan interstitial dan komponenya pindah dari darah kapiler dan sel
  2. Fase III   : cairan dan substansi yang ada didalamnya berpindah dari cairan

Interstitial menuju ke dalam sel, pembuluh darah kapiler dan membran sel yang merupakan membrane semipermeabel mampu memfilter substansi yang ada.

 

 

  1. Ketidakseimbangan cairan

Ketidakseimbangan cairan meliputi due kelompok dasar, yaitu gangguan keseimbangan isotonis dan gangguan keseimbangan osmolaritas. Ketidakseimbangan isotonis terjadi ketika sejumlah cairan danelektrolot hilang secara bersamaan dalam proporsi yang seimbang. Sedangkan ketidakseimbangan osmolar terjadi ketika kehilangan cairan tidak diimbangi dengan perubahan kadar elektrolit dalam proporsi yang seimbang sehingga menyebabkan perubahan pada konsentrasi dan osmolaritas serum. Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kategori ketidakseimbangan cairan, yaitu :

  1. Kehilangan cairan dan elektrolit isotonic
  2. Kehilangan cairan (hanya air yang berkurang)
  3. Peningkatan cairan dan elektrolit isotonis, dan
  4. Peningkatan osmolal (hanya air yang meningkat)

defisit volume cairan terjadi ketika tububh kehilangan cairan dan elektrolit ekstraseluler dalam jumlah yang proposional (isotonik). Kondisi seperti ini disebut juga hipovolemi. Umunya gangguan ini diawali ddengan kehilangan cairan intravasekuler, lalu didikuti dengan perpindahan cairazn intraseluler menuju intravasekuler, sehingga menyebabkan penurunan cairan ekstraseluler. Untuk mengompensaasi kondisi ini, tubuh melakukan pemindahan cairan intraseluler. Secara umum, deficit volume cairan disebabkan oleh beberapa hal, yaitu : kehilangan cairan abnormal melalui kulit, penurunan asupan cairan, pendarahan dan pergerakan  cairan ke lokasi ketiga ( lokasi tempat cairan berpindah dan tidak mudah untuk mengembalikanya ke lokasi semula dalam kondisi cairan eksteraseluler istirahat). Cairan dapat berpindah dari lokasi intravasikuler mennuju lokasi potensial seperti pleura, peritoneum., pericardium atau rongga sendi. Selain itu, kondisi tertentu seperti terperangkapnya cairan dalam saluran pencernaan dapar terjadi akibat obstruksi saluran pencernaan.

Dehidrasi, sering juga disebut dengan ketidakseimbangan hyperosmolar, terjadi akibat kehilangan cairan yang tidak diimbangi dengan kehilangan elektrolit dalam jumlah proporsional, terutama natrium. Kehilangan cairan menyebabkan peningkatan natrium, peningkatan osmolaritas, serta dehidrasi intraseluler. Air berpinda dari sel kompatermen interstitial menuju ruang vasikuler. Kondisi ini menyebabkan gangguan fungsi sel dan kolaps sirkulasi. Orang yang beresiko mengalami dehidrasi salah satunya adalah imdividu lansia. Mereka mengalami pennurunan proses haus dan pemekatan urine. Disamping itu lansia memiliki proporsi lemak yang lebih besar sehingga beresiko mengalami dehidrasi akibat cadangan air yang sedikit dalam tubuh.

Kelebihan volume cairan ekstraselular merupakan suatu kondisi akibat iatrogenic (pemberian cairan intravena seperti NaCl yang menyebabkan kelebihan air dan NaCl ataupun pemberian cairan intravena glukosayang menyebabkan kelebihan air) ataupun dapat sekunder akibat insufisiensi renal (gangguan pada GFR), sirosis, ataupun gagal jantung kongestif. Kelebihan cairan intaseluler dapat terjadi jika terjadi kelebihan cairan tetapi jumlah NaCl tetap atau berkurang

  1. Ketidakseimbangan elektrolit
    1. Ketidak seimbangan natrium

Kelebihan atau kekurangan natrium mempunyai banyak karakteristik yan sama dengan gangguan cairan osmolaritas. Hipernatremia  adalah suatu kondisi dengan nilai konsentrasi natium didalam darah lebih rendah dari normal, yang dapat terjadi pada saat kehilangan total natrium atau kelebihan total air adalah penyakit ginjal, insufidiensi adrenal, pengeluaran keringat meningkat, dll. Biasanya hiponatremia menyebabkan penurunan osmolalitas plasma cairan dan ekstrasel.

Ketika terjadi kehilanagan natrium, tubuh mula-mula beradaptasi dengan menurunkan ekskresi air untuk menurunkan osmolalitas serum. Apabila kehilangan natrium berlanjut, tubuh akan berupaya untuk mempertahankan volume darah, akibattnya proporsi natrium didalam cairan ekstrasel berkurang namun, hiponatremia yang disebabkan oleh kehilanhan natrium dapat menyebabkan kolaps pada pembuluh darah dan syok. Apbila kekurangan yang terjadi hanya kekurangan natrium, maka kehilangan volume cairan ekstrasel bermakna sesuatu kondisi yang berbeda dari hiponatremia yang behubungan dengan peningkatan atau normalnya cairan ekstrasel. Hiponatremia berat akan menyebabkan perubahan neurologis dan kadar natrium srum menjadi 110 mEq/L akan menyebabkan perubahan neurologis  yang tidak dapat pulih kembali bahkan dapat menyebabkan kematian. Hipernatremia adalah suatu kondisi dimana nilai konsentrasi natrium lebih tinggi dari konsentrasi normal didalam cairan ekstrasel, yang dapat disebabkan oleh kehilangan cairan yang ekstrim atau kelebihan natrium total. Apabila penyebab hipernatremia adalah peningkatan sekresi aldosteron, maka natrium dipertahankan dan kalium diekskresi. Ketika terjadi hipernatreia, tubuh berupaya mempertahankan air sebanya-banyaknya melalui rearbsorbsi air di ginjal. Tekanan osmotic cairan interstitial meningkat dan  cairan berpinadah dari intrasel ke dalam cairan ekstrasel sehingga nenyebabkan sel-sel menusut dan mengganggu sebagian besar proses fisiologis selular.

  1. Ketidakseimbangan Kalium

Hipokalemia adalah suatu kondisi ketika jumlah kalium yang bersirkulasi disalam cairan ekstrasel tidak adekuat. Apabila parah, hipokalemia dapat mengganggu konduksi jantung dengan menyebabkan ketidakteraturran yang berbahaya bagi jantung. Kaena rentang normal kalium terlalu pendek, maka toleransi terhadap terjadinya fluktuasi dalam kadar kalium serum juga keci. penyebab paling umum adalah penggunaan diuretik yang membuang kalium seperti tiazid dan  loop diuretic. Hal ini menjadi masalah khusu jika klien juga menggunakan preparat digitalis karena hipokalemia merupakan penyebab tersering terjadinya keracunan digitalis (pencenaan). Hiperkalemia merupakan kondisi dimana kadar kalium lebih besar sdari jumlah normal kalium dalam darah. Penyebab utamanya adalah gagl ginjal, karena adanya penurunan ginjal akan mengurangi jumlah ekskresi kalium oleh ginjal, tetapi penyakit lain juga dapat meningkatkan kalium seperti :dehidrasu hipertonik, infuse darah yang berlangsung cepat, dll.

  1. Ketidakseimbangan kalsium

Hipokalsemia  mencerminkan penurunan kadar kalsium dalam serum dan penurunan kalsium yag terionisaasi serta dapat menyebabkan bebrapa penyakit, bebrapa diantaranya dipengaruhi oleh kelenjar tiroid dan paratiroid. Tanda dan gejala yang ditimbulkan dari hipokalsemia berhubungan secara langsung dengan peran kalsiumserum pada fungsi neuromuscular. Hiperkalsemia adalah peningkatan konsentrasi total kalsium dalam serum dan peningkatan kalsium yang terionisisasi. seringkali hiperkalsemmia merupakan suatu gejala dari penyakit pokok yang menyebabkan resopsi tulang berlebihan, disertai pelepasan kalsium

  1.  Ketidakseimbangan magnesium 

Hipomagnesmia merupakan keadaan dimana konsentrasi serum menurun sampai dibawah 1,5 mEq/L. penyebab hipomagnemia adalah kekehilangan magnesium yang berlebihan. Menyebabkan gejala yang mirip dengan hipokalsemia. Magnesium bekerja secara langsung pada sambungan neurmuskular. Penurunan konsentrasi magnesium serum meningkatkan irritabilitas neuromuscular. Hipermagnesmia  adalah suatu kondisi yang terjadi ketika konsentrasi magnesium serum meningkat sampai diatas 2,5 mEq/L. hipermagnesmia dapat menurunkan eksitabilitas sel-sel otot.

  1. Ketidakseimbangan asam-basa 

Tipe utama ketidak seimbangan asam basa adalah : asidosis respiratorik, asidosis metabolic, alkalosis respiratorik, alkalosis metabolic.

  1. Asidosis respiratorik

Asidosis respiratorik ditandai dengan peningkatan konsentrasi karbondioksida (PaCO2), kelebihan asam karbonat, dan peningkatan konsentrasi ion hydrogen (penurunan PH). Asidosis respiratorik disebabkan oleh hipoventilasi atau suatu kondisi yang menekan ventilasi. Penurunan ventilasi dapat dimulai pada system pernafasan  ( gagal nafas) atau diluar system pernafasan ( overdosis obat).

  1. Alkalosis respiratorik

Alkalosis repiratorik ditandai dengan penurunan PaCO2 dan penurunan konsentrasi ion hydrogen (peningkkatan PH). Alkalosis respiratorik  diakibatkan oleh penghembusan karbondioksida yang berlebihan ( pada waktu pengeluaran nafas) atau oleh hiperventilasi. Seperti halnya asidosis respiratorik, alkalosis respiratorik dapat dimulai dari luar system pernafasan ( ansietas) atau dari dalam system pernafasan seperti pada fase awal serangan asma.

  1. Asidosis metabolic

Asidosis metabolic diakibatkan oleh penningkatan konsentrasi ion hydrogen (peningkatan PH) didalam cairan ekstrasel, yang disebabkan oleh penirunan kadar bikarbonat. Tipe asidosis metabolic disebabkan oleh, nrmokloremik dan hiperkloremik, diklarifikasikan menurut konsentrasi klorida plasma yang dimiliki klien.

  1. Alkalosis metabolic ditandai dengan banyaknya kehilangan asam dari tubuh atau dengan meningkatnya kadar bikarbonat. Muntah adalah  penyebab umum paling umum. Alkalosis metabolic juga dapat terjadi jika seorang klien yang mengalami gangguan asam lambung, menelan natrium bikarbonat dalam jumlah besar.
  2. Physiologi adaptation with aging

Pada proses penuaan banyak sekali para pakar dunia yang mendefinisikanya, diataranya: Constantinides, 1994, beliau menyatakan bahwa menua (aging) adalah proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaingan untuk memperbaiki diri/mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsional normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas ( termasuk insfeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Sedangkan, Ignativicus, Workman, Mishler, 1999 mendefinisikan menua adalah prose yang dapat dilihat sebagai sebuah kontinum kejadian dari lahir sampai meninggal.

Batasan usia menurut WHO meliputi

  1.  usia pertengahan (middle age), yaitu kelompok usia 45 sampai 59 tahun 
  2.  lanjut usia (elderly), antara 60 sampai 74 tahun
  3. lanjut usia tua (old), antara 75 sampai 90 tahun
  4.  usia sangat tua (very old), diatas 90 tahun
  5. Perubahan-perubahan yang Terjadi pada Lanjut Usia.
  6.             I.   Perubahan-perubahan Fisik
    1. Sel.
    2. Lebih sedikit jumlahnya.
    3. Lebih besar ukurannya.
    4. Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler.
    5. Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati.
    6. Jumlah sel otak menurun.
    7. Terganggunya mekanisme perbaikan sel.
    8. Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5-10%.
      1. Sistem Persarafan.
      2. Berat otak menurun 10-20%. (Setiap  orang berkurang sel saraf otaknya dalam setiap harinya).
      3. Cepatnya menurun hubungan persarafan.
      4. Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres.
      5. Mengecilnya saraf panca indra.Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya saraf penciumdan perasa, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.
      6. Kurang sensitif terhadap sentuhan.
        1. Sistem Pendengaran.
        2. Presbiakusis ( gangguan dalam pendengaran ). Hilangnya kemampuan pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nadanada yang tinggi, suara yang tidak  jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
        3. Otosklerosis akibat atrofi membran tympani .
        4. Terjadinya pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkatnya keratin.
        5. Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan jiwa/stres.
          1. Sistem Penglihatan.
          2. Timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
          3. Kornea lebih berbentuk sferis (bola).
          4. Kekeruhan pada lensa menyebabkan katarak.
          5. Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya gelap.
          6. Hilangnya daya akomodasi.
          7. Menurunnya lapangan pandang, berkurang luas pandangannya.
          8. Menurunnya daya membedakan warna biru atau hijau.
            1. Sistem Kardiovaskuler.
            2. Elastisitas dinding aorta menurun.
            3. Katup jantung menebal dan menjadi kaku.
            4. Kemampuan jantung memompa darah menurun, hal ini menyebabakan menurunnya kontraksi dan volumenya.
            5. Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenisasi,. Perubahan posisi dari tidur ke duduk atau dari duduk ke berdiri bisa menyebabkan tekanan darah menurun, mengakibatkan pusing mendadak.
            6. Tekanan darah meninggi akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.
              1. Sistem Pengaturan Temperatur Tubuh.
              2. Temperatur tubuh menurun ( hipotermia ) secara fisiologis akibat metabolisme yang menurun.
              3. Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas akibatnya aktivitas otot menurun.

 

  1. Sistem Respirasi
  2. Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku.
  3. Menurunnya aktivitas dari silia.
  4. Paru-paru kehilangan elastisitas, menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman bernafas menurun.
  5. Alveoli ukuranya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang.
  6. Kemampuan untuk batuk berkurang.
  7. Kemampuan kekuatan otot pernafasan akan menurun seiring dengan pertambahan usia.
    1. Sistem Reproduksi.
    2. Menciutnya ovari dan uterus.
    3. Atrofi payudara.
    4. Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa meskipun adanya  penurunan secara berangsur-angsur.
    5. Kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia asal kondisi  kesehatan baik.
    6. Selaput lendir vagina menurun.
      1.       II.     Perubahan-perubahan Mental.
        1. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental.
        2. Perubahan fisik, khususnya organ perasa.
        3. b. Kesehatan umum
        4. c. Tingkat pendidikan
        5. d. Keturunan (Hereditas)
        6. e. Lingkungan
          1. Kenangan (Memory).
          2. Kenangan jangka panjang: Berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu mencakup beberapa perubahan.
          3. Kenangan jangka pendek atau seketika: 0-10 menit, kenangan buruk.
            1. IQ (Inteligentia Quantion).
            2. Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal.
            3. Berkurangnya penampilan, persepsi dan ketrampilan psikomotor, terjadi perubahan pada daya membayangkan karena tekanan-tekanan dari faktor  waktu.
              1.    III.      Perubahan-perubahan Psikososial.
              2. Pensiun: nilai seseorang sering diukur oleh produktivitasnya dan identitas dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Bila seseorang pensiun (purna tugas), ia akan mengalami kehilangan-kehilangan, antara lain :

1)      Kehilangan finansial (income berkurang).

2)      Kehilangan status (dulu mempunyai jabatan posisi yang cukup tinggi, lengkap dengan segala fasilitasnya).

3)      Kehilangan teman/kenalan atau relasi.

4)      Kehilangan pekerjaan/kegiatan.

  1. Merasakan atau sadar akan kematian (sense of awareness of mortality)
  2. Perubahan dalam cara hidup, yaitu  memasuki rumah perawatan bergerak lebih sempit.
  3. Ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan (economic deprivation).
  4. Meningkatnya biaya hidup pada penghasilan yang sulit, bertambahnya biaya pengobatan.
  5. Penyakit kronis dan ketidakmampuan.
  6. Gangguan saraf pancaindra, timbul kebutaan dan ketulian.
  7. Gangguan gizi akibat kehilangan jabatan.
  8. Penyakit pada Lanjut Usia
  9. Penyakit sistem paru dan kardiovaskuler.
    1. Paru-paru

Fungsi paru-paru mengalami kemunduran disebabkan berkurangnya elastisitas jaringan paru-paru dan dinding dada, berkurangnya kekuatan kontraksi otot pernafasan sehingga menyebabkan sulit bernafas. Infeksi sering diderita pada lanjut usia diantaranya pneumonia, kematian cukup tinggi sampai 40 % yang terjadi  karena daya tahan tubuh yang menurun. Tuberkulosis pada lansia diperkirakan masih cukup tinggi.

  1. Jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler).

Pada orang lanjut usia, umumnya besar jantung akan sedikit menurun. Yang

paling banyak mengalami penurunan adalah rongga bilik kiri, akibat semakin berkurangnya aktivitas dan juga mengalami penurunan adalah besarnya sel-sel otot jantung hingga menyebabkan menurunnya kekuatan otot jantung. Pada lansia, tekanan darah meningkat secara bertahap. Elastisitas jantung pada orang berusia 70 tahun menurun sekitar 50 % dibanding orang berusia 20 tahun. Tekanan darah pada wanita tua mencapai 170/90 mmHg dan  pada pria tua mencapai 160/100 mmHg masih dianggap normal.

Pada lansia banyak dijumpai penyakit jantung koroner yang disebut jantung iskemi. Perubahan-perubahan yang dapat dijumpai pada penderita jantung iskemi adalah pada pembuluh darah jantung akibat arteriosklerosis serta faktor pencetusnya bisa karena banyak merokok, kadar kolesterol tinggi, penderita diabetes mellitus dan berat badan berlebihan serta kurang berolah raga.  Masalah lain pada lansia adalah hipertensi yang sering ditemukan dan menjadi faktor utama penyebab stroke dan penyakit jantung koroner.

  1. Penyakit pencernaan makanan.

Penyakit yang sering terjadi pada saluran pencernaan lansia antara lain gastritis dan ulkus peptikum, dengan gejala yang  biasanya tidak spesifik, penurunan berat badan, mual-mual, perut terasa tidak enak. Namun keluhan seperti kembung, perut terasa tidak enak seringkali akibat ketidakmampuan mencerna makanan karena menurunnya fungsi kelenjar pencernaan. Sembelit/konstipasi kurang nafsu makan juga sering dijumpai.

  1. Penyakit sistem urogenital.

 Pada pria berusia lebih dari 50 tahun bisa terjadi pembesaran kelenjar prostat (hipertrofi prostat), yang mengakibatkan gangguan buang air kecil, sedang pria lanjut usia banyak dijumpai kanker pada kelenjar prostat. Pada wanita bisa dijumpai peradangan kandung kemih sampai peradangan ginjal akibat gangguan buang air kecil. Keadaan ini disebabkan berkurangnya tonus kandung kemih dan adanya tumor yang menyumbat saluran kemih.

  1. Penyakit gangguan endokrin (metabolik).

Dalam sistem endokrin , ada hormon yang diproduksi dalam jumlah besar di saat stress dan berperan penting dalam reaksi mengatasi stress. Oleh karena itu, dengan mundurnya produksi hormon inilah lanjut usia kurang mampu menghadapi stress. Menurunnya hormon tiroid juga menyebabkan lansia tampak lesu dan kurang bergairah. Kemunduran fungsi kelenjar endokrin lainnya seperti adanya menopause pada wanita, sedang pada pria terjadi penurunan sekresi kelenjar testis. Penyakit metabolik yang banyak dijumpai ialah diabetas melitus dan osteoporosis.

  1. Penyakit pada persendian tulang.

 Penyakit pada sendi ini adalah akibat degenerasi atau kerusakan pada permukaan sendi-sendi tulang yang banyak dijumpai pada lansia. Lansia sering mengeluhkan linu-linu, pegal, dan kadang-kadang terasa nyeri. Biasanya yang terkena adalah persendian pada jari-jari, tulang punggung, sendi-sendi lutut dan panggul. Gangguan metabolisme asam urat dalam tubuh (gout) menyebabkan nyeri yang sifatnya akut. Terjadinya osteoporosis menjadi menyebab tulang-tulang lanjut usia mudah patah. Biasanya patah tulang terjadi karena lanjut usia tersebut jatuh, akibat kekuatan otot berkurang, koordinasi  anggota badan menurun, mendadak pusing, penglihatan yang kurang baik, dan bisa karena cahaya kurang terang dan lantai yang licin.

 

  1. Pemeriksaan fisik ( IPPA, Nadi, tensi, crt jvp dan allen tes

Pemeriksaan fisik adalahh pemeriksaan tubuh untuk menentukan adanya kelainan – kelainan dari suatu system bagian tubuh dengan cara melihat (inspeksi), meraba (palapasi), mengetuk (perkusi) dan mendengarkan (aukskultasi). Pada umumnya pemeriksaan fisik ini dilakukan secara berurutan mulai dari inspeksi sampai dengan aukskultasi maka dari itu sering disingkat dengan IPPA.

  1. Inspeksi

Inspeksi adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh yang dioeriksa melalui pengamatan . hasilnya seperti mata kuning (icteric), terdapat strauma di leher, kulit kebiruan (sianosis) dll. Tanda tanda yang diamati pada pemeriksaan inspeksi kardiovaskuler adalah : bentuk prekordium, denyut pada apeks jantung, denyut nadi pada dada, denyut vena.

Bentuk precordium yang dilihat adalah, pada umumnya kedua  belah dada simetris, pada bentuk prekordium yang cekung biasanya dapat terjadi akibat perikarditis menahun, fibrosis atau atelaktasis paru, scolisi atau kifoskololiosis. Sedangkan prekordium yang berbentuk cembung dapat terjadi akibat dari pembesaran jantung (gastromegali), efusi epikardium, efusi  pleura, tumor paru, tumor mediastrum.

Denyut afeks jantung yang dilihat dalam keadan normal, dengan sikap duduk, tidur atau berdiri terlihat dalam ruangan interkostal V sisi kiri agak medial dari linea midclavicularis sinistra.pada anak iktus tampak pada ruang interkostal IV, karena sifat iktus

  1. ketika pada keadaan normal hanya merupakan tonjolan kecil, yang sifatnya local. Pada pembesaran yang sangat signifikan pada bilik kiri, iktus akan meluas
  2. Iktus hanya terjadi selama systole.Oleh karena itu, untuk memeriksa iktus, kita adakan juga palpasi pada a. carotis comunis untuk merasakan adanya gelombang yang asalnya dari systole.

Pada orang dewasa normal yang agak kurus seringkali tampak dengan mudah pulsasi ataau yang sering disebut dengan iktus cordis pada intercosta V, linea medioclavicularis kiri, pulsasi ini terletak sesuai dengan apeks janrung. Diameter pulsasi kira-kira 2 cm, dengan puctum maksimum di tengah-tengah daerah tersebut. Disamping adnya iktus perhatikan juga adanya getaran “thrill” yang terasa pada telapak tangan, akibat kelainan katup-katup jatung. Getaran ini sesuai dengan bising jantung yang kuat pada saat aukskultasi.

  1. Palpasi

Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan perabbaan terhadap bagian-bagian tubuh yang mnengalami kelainan, misalnya adanya tumor, odema, krepitasi ( patah/retak tulang, dll. Urutan palpasi dalam rangka pemeriksaan jantung adalah sebagai berikut : pemeriksaan iktuskordis dan pemeriksaan getaran / thrill

Pada pemerksaan palpasi iktus cordis, telapak tangan harus diletakan diatas prekordium dan dilakukan diatas iktus cordis ( apical impulse) lokasi point of maksimal impulse terletek pada ICS V kira-kira 1 jari medial dari garis lurus midklavikularis. Pada bentuk dada yang panjang dan gepeng, iktus cordis terletak pada ICS VI medial garis midklavikularis, sedangkan bentuk dada yang pendek dan lebar, iktus kordis terletak agak ke lateral. Pada keadaan normal lear ikus kordis yang teraba adalah 1-2 cm, bila kekuatan volume dan kualitas jantung meningkat maka terjadi sistolik heaving dan dalam keadan ini daereah iktus kordis akan teraba lebih melebar. Bila iktus tidak teraba pada posisi terlentang maka mintalah pasien untuk berbaring sedikit miring ke kiri ( posisi left lateral decubitus) dan kembali lakukan ppalpasi. Dan jika masih belum teraba maka mintalah pasien untuk inspirasi dan ekspirasi maksimal dan kemudian menahan nafas sebentar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Pemeriksaan palpasi iktus kordis

( posisi left lateral decubitus)

 

Pada saat memeriksa pasien wanita, mammae akan menghalangi pemeriksaan palpasi. Sisihkanmammae ke arah atas atau lateral, mintalah bantuan tangan pasien bila perlu.Pada beberapa keadaan fisiologis tertentu, iktus dapat tidak teraba, misalnya pada obesitas, ototdinding dada tebal, diameter anteroposterior kavum thorax lebar atau bila iktus tersembunyi dibelakang kosta. Pada keadaan normal hanya impuls dari apeks yang dapat diraba. Pada pemeriksaan palpasi iktus kordis (posisi left lateral decubitus) bila iktus tidak teraba pada posisi terlentang,mintalah pasien untuk berbaring sedikit miring ke kiri (posisi left lateral decubitus) dan kembali lakukan palpasi. Jika iktus tetapbelum teraba, mintalah pasien untuk inspirasidan ekspirasi maksimal kemudian menahannafas sebentar. Setelah iktus ditemukan, karakteristik iktusdinilai dengan menggunakan ujung-ujung jaridan kemudian dengan 1 ujung jari.

Dengan palpasi dapat ditemukan adanya gerakan jantung yang menyentuh dinding dada, terutama jika terdapat peningkatan aktifitas ventrikel, pembesaran ventrikel atau ketidakteraturan kontraksi ventrikel. Gerakan dari ventrikel kanan biasanya tak teraba, kecuali pada hipertrofi ventrikel kanan, dimana ventrikel kanan akan menyentuh dinding dada (ventrikel kanan mengangkat). Kadang-kadang gerakan jantung teraba sebagai gerakan kursi goyang (ventricular heaving) yang akan mengangkat jari pemeriksa pada palpasi

Thrill (getaran karena adanya bising jantung) sering dapat diraba. Bising jantung dengan gradasi 3-4 biasanya dapat teraba sebagai thrill. Sensasi yang terasa adalah seperti meraba leher kucing. Bila pada palpasi pertama belum ditemukan adanya thrill sedangkan pada auskultasi  terdengar bising jantung derajat 3-4, kembali lakukan palpasi pada lokasi ditemukannya bisinguntuk mencari adanya thrill. Thrill sering menyertai bising jantung yang keras dan kasar sepertiyang terjadi pada stenosis aorta, Patent Ductus Arteriosus, Ventricular Septal Defect, dan kadang stenosis mitral.

 

  1. Perkusi

Perkusi adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan mengetuk bagian tubuh menggunakan tangan atau alat bantu seperti hammer untuk mengetahui reflex seseorang. Pada pemeriksaan perkusi kardiovaskuler Perkusi berguna untuk menetapkan batas jantung, terutama pada pembesaran jantung. Perkusibatas kiri redam jantung (LBCD - left border of cardiac dullness) dilakukan dari lateral ke medialdimulai dari sela iga 5, 4 dan 3. LBCD terdapat kurang lebih 1-2 cm di sebelah medial lineamidklavikularis kiri dan bergeser 1 cm ke medial pada ICS 3 dan 4. Sedangkan Batas kanan redam jantung (RBCD - right border of cardiac dullness) dilakukan dengan perkusibagian lateral kanan dari sternum. Pada keadaan normal RBCD akan berada di medial batasdalam sternum. Kepekakan RBCD diluar batas kanan sternum mencerminkan adanya bagian jantung yang membesar atau bergeser ke kanan. Penentuan adanya pembesaran jantung harusditentukan dari RBCD maupun LBCD. Kepekakan di daerah dibawah sternum (retrosternaldullness) biasanya mempunyai lebar kurang lebih 6 cm pada orang dewasa. Jika lebih lebar,harus dipikirkan kemungkinan adanya massa retrosternal. Pada wanita, kesulitan akan terjadidengan mammae yang besar, dalam hal ini perkusi dilakukan setelah menyingkirkan kelenjar mammae dari area perkusi dengan bantuan tangan pasien

 

  1. Auksk

1 Komentar

ozhie

pada : 08 May 2012


""mav jika gambarnya gak ada, soalnya masih amateur menggunakan blog..
mhon kritik dan saranya ya :)"

semoga bermanfaat ^_^"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :